Kamis, 15 April 2010

agama 5

PENGERTIAN AGAMA SERTA LATAR BELAKANG PERLUNYA MANUSIA TERHADAP AGAMA



A. Pengertian Agama

Secara sederhana, pengertian agama dapat dilihat dari sudut kebahasan dan sudut istilah. Mengartikan agama dari sudut kebahasan akan terasa lebuh mudah dari pada mengartikan agama dari sudut istilah, karena pengertian agama dari sudut istilah sudah mengandung muatan subyektivitas dari orang yang mengartikannya. Atas dasar ini maka tidak mengherankan jika muncul beberapa ahli agama yang tidak tertarik mendefinisikan agama. James H, leuba, berusaha mengumpulkan semua definisi yang pernah dibuat orang tentang agama, tak kurang dari 48 teori. Namun akhirnya ia berkesimpulan, bahwa usaha untuk membuat definisi agama itu tak ada gunanya, karna hanya merupakan kepandaian bersilat lidah. Selanjutnya Mukhti Ali pernah mengatakan, barang kali tidak ada kata yang paling sulit diberi pengertian dan definisi selain dari kata agama. Pernyataan itu didasarkan pada tiga alas an. Pertama, bahwa pengalaman agama adalah soal batini, subjektif dan sangat individualis sifatnya. Kedua, barang kali tidak ada orang yang begitu bersemangat dan emosinal dari pada orang yang membicarakan agama. Ketiga, konsepsi tentang agama dipengaruhi oleh tujuan dari orang yang memberikan definisi tersebut.
Sampai sekarang perdebatan tentang definisi agama masih belum selesai, hingga W.H.Clarck, seorang ahli Ilmu jiwa agama mengatakan bahwa tidak ada yang lebih sukar dari pada mencari kata-kata yang dapat digunakan untuk membuat definisi agama, karena pengalaman agama adalah subyektif, inter dan individual, diman setiap orang akan merasakan pengalaman agama yang berbeda dari yang lain. Disamping itu tampak, bahwa pada umumnya orang mengaku lebih condong kepada agama, kendatipun ia tidak menjalankannya.
Berbagai pernyataan tersebut sengaja dikemukakan disini sebelum memasuki pembahasan pengertian mengenai agama lebih lanjut, dengan tujuan agar dari sejak awal kita tidak memandang bahwa suatu pengertian agama yang dikemukakan seorang ahli dianggap lebih unggul dibandingkan dengan pengertian agama yang diberikan yang lainnya.
Pengertian agama dari segi bahasa dapat kita ikuti antara lain uraian yang diberikan Harun Nasution. Menurutnya, dalam masyarakat Indonesia selain dari kata agama, dikenala pula kata “ ?? ?” dari bahasa Arab dan kata religi dari bahasa eropa, menurutnya agama berasal dari kata Sanskrit. Menurut suatu pendapat , demikian Harun Nasution mengatakan, kata itu tersusun dari dua kata, a=tidak dan gam=pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi secara turun temurun dari satu generasi ke enerasi lainnya. Selanjutnya ada lagi pendapat yang mengatakan agama itu teks atau kitab suci. Dan agama-agama memang mempunyai kitab suci. Selanjutnya dikatakan lagi bahwa agama berarti tuntutan. Pengertian ini tampak menggambarkan salah satu fungsi agama adalah agama sebagai suatu tuntutan dalam kehidupan.
Selanjutnya din dalam bahasa semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini berarti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan dan kebiasaan. Pengertian ini juga sejalan dengan pengertian agamayang didalamnya terdapat peraturan-peraturan yang merupakan hukum, yang harus dipatuhi oleh penganut agama yang bersangkutan.
Adapun kata religi berasal dari bahasa latin. Menurut satu pendapat, asal kata religi adalah relegere yang mengandung arti mengumpulkan atau membaca. Pengertian demikian ini juga sejalan dengan isi agama yang mengandung kumpulan cara-cara mengabdi pada Tuhan yang terkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca
Dari beberapa definisi tersebut, akhirnya Harun Nasution menyimpulkan bahwa intisari yang mengandung dalam istilah-istilah diatas adalah iakatan. Agama memang mengandung arti ikatanyang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan ini mempunyai penagruh besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari. Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinngi dari manusia. Satu kekuatan gaib yang dapat ditangkap oleh panca indra.
Adapun pengertian agama dari segi istilah dapat dikemukakan sebagai berikut. Elizabet K. Nottingham mengatakan bahwa agama adalah gejala yang begitu sering terdapat dimana-mana sehinnga sedikit membantu usaha-usaha kita untuk membuat abstraksi ilmiah. Lebih lanjut Nottingham mangatakan bahwa agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaannya sendiri dan keberadaan alam semesta. Agama dapat membangkitkan kebahagiaan batin yang paling sempurna, dan juga perasaan takut dan ngeri. Sementara itu Durkheim mengatakan agama adalah pantulan dari solidaritas social. Bahkan kalau dikaji katanya Tuhan itu sebenarnya adalah ciptaan masyarakat.

Definisi tentang agama sangatlah banyak, namun Harun Nasution sendiri mendefinisikan agama sebagai berikut;
a. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi.
b. Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia.
c. Mengikatkan diri pada suatu bentuka hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada diluar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia
d. Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
e. Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari kekuatan gaib.
f. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada kekuatan gaib.
g. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemahdan pesrasaan takut terhadap kekuatan misteriusyang terdapat dalam alam sekitar manusia.
h. Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.

B. Latar Belakang Perlunya Manusia Terhadap Agama
Sekurang-kurangnya ada empat alas an yang melatarbelakangi perlunya manusi terhadapterhadap agama. Keempat alas an tersebut secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut;
1. Latar belakang fitrah manusia
Dalam bukunya yang berjudul perspektif manusia dan agama, Murthadha Muthahhary mengatakan, bahwa disaat bicara tentang para Nabi, Imam Ali Alaihissalam menyebutkan bahwa mereka diutus untuk mengingatkan manusia kepada perjanjian yang telah diikat oleh fitrah mereka, yang kelak mereka akan dituntut untuk memenuhinya. Perjanjian itu tidak dicatat diatas kertas, tidak pula diucapkan oleh lidah, melainkan terukir dengan pena ciptaan Allahdipermukaan qalbu dan lubuk fitrah manusia, dan diatas permukaan hati nuraniserta dikedalaman perasaan bathiniah.
Kenyataan bahwa manusia memiliki fitrah keagamaan diatas, buat pertama kali ditegaskan dalam ajaran islam, yakni bahwa agama adalah kebuthan fitrah maanusia. Fitrah keagamaan yang ada dalam diri manusiainilah yang melatarbelakangi perlunya manusia pada agama. Oleh karenanya ketika dating wahyu Tuhan yang menyeru manusia agar beragama, maka seruan tersebut amat sejalan dengan fitrahnya itu, dalam konteks ini kita misalalnya membaca ayat yang berbunyi,

( ?????) ??? ???? ? ????? ???????? ???????? ???? ??? ?? ?????

?hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang tekah menciptakan menusia sesuai dengan fitrah itu
Adanya potensi fitrah yang terdapat pada manusia tersebut dapat pula dianalisis dari istilah insane yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan manusia. Dengna mengacu kepada informasi yang diberikan Al-Qur’an, Musa Asyary pada satu kesimpulan, bahwa manusia insane adalah manusia yang menerima pelajaran dari Tuhantentang apa yang tidak diketahuinya, manusia insane ecara kodrati sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna bentuknya dengan ciptaan Tuhan lainnya, sudah dilengkapi dengan kemampuan mengenal dan memahami kebenaran dan kebaikan yang terpancar dari ciptaan-Nya. Lebih lanjut Asy;ari mengatakan bahwa pengertian manuusia yang disebut insan, yang dalam al-Qur’an dipakai untuk menunjukkan lapangn kegiatan manusia yang amat luas adalah terletak pada kemampuan menggunakan akalnya dan mewujudkan pengetahuan konseptual dalam kehidupan konkret.
Informasi mengenai potensi beragama yang dimiliki manusia dapat pula dijumpai dalam ayat yang artinya:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka(secara berfirman; bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab:”betul(engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi(kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan: sesungguhnya kami(Bani Adam)adalah orang-orang yang lengah terhadap ini(keesaan Tuhan)”

Berdasarkan informasi tersebut terlihat dengan jelas bahwa manusia secara fitri merupakan makhluk yang memiliki kemampuan untuk beragama. Hal demikian sejalan dengan petunjuk Nabi dalam satu hadisnya mengatakanbahwa setiap anak yang dilahirkan memiliki fitrah(potensi beragama), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. Karena demikian pentingnyamenumbuhkembangkan dan memenliharapotensi keagamaan yang ada dalam diri manusia, maka pada saat kelahirannya pertama kali diperdengarkan kepada manusia adalah nama Allahdengan cara memperdengarkan suara adzan pada telinga sebelah kanannya dan iqamah pada telinga sebelahnya. Keadaan yang demikian dipupuk dengan cara memberi nama yang baik, karena nama yang baik mendoakan kepada orang yang menamainya. Selanjutnya diberikan makanan yang bersih dan suci yang dilambangkan dengan member madu pada saat kelahiran anak, dicukur rambutnya dengan tujuan agar menyukai kebersihan, keindahan dan ketampanan yang semuanya itu disukai Allah. Selanjutnya dipotongkan hewan aqiqah yang dihidangkan kepada tetanga dan karib kerabat dengan maksud untuk mengakui eksistensi anak tersebt ditengah-tengah lingkungan keluarganya yang selanjutnya dapat menumbuhkan rasa harga diri, selanjutnya anak tersebut dikhitan dengan maksud mengikuti sunnah Rasulullah, menyukai kebersihan, dan selanjutnya dajar membaca al-quran, dididk mengerjakan sholat mulai usia tujuh tahun, agar pada waktunya ia akan terbiasa mengerjakannya dengan mudah
Bukti bahwa manusia sebagai mmakhluk yang memiliki potensi beragama ini dapat dilihat dari bukti historis dan antropologis. Melalui bukti historis dan antropologis kita mengetahui bahwa pada manusia primitive yang kepadanya tidak pernah datang informasi mengenai Tuhan, ternyata mereka mempercayai adanya Tuhan, sungguhpun Tuhan yang mereka percayai itu terbatas pada daya khayalnya.
2. Kelemahan dan kekurangan manusia

Faktor lain yang melatarbelakangi bahwa manusia memerlukan agama adalah karena disamping manusia memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan. hal ini antara lain diungkapkan oleh kata al-nafs. Menurut Quraish shihab, dalam pandangan al-Qur’an, nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna yang berfungsi untuk menampungserta mendorong manusia untuk berbuat kebajikan dan keburukan, dank arena itu sisidalam manusia nilah yang oleh al-Qur’an dianjurkan untuk diberi perhatian yang lebih besar.

3. Tantangan Manusia.
Faktor lain yang melatarbelakangi bahwa manusia memerlukan agama adalah karena manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Tantangan dari dalam dapat berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan setan. Sedangkan tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upayayang dilakukan manusia dengan sengaja berupaya memalingkan manusia dari Tuhan. Mereka dengan rela mengeluarkan biaya, tenaga dan pikiran yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk kebudayaan yang didalamnya mengandung misi menjauhkan manusia dari Tuhan. Sebagaiman firman Allah yang artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. (Qs. Al-anfal, 8:36).

Orang kafir itu sengaja mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mereka gunakan agar orang mengikuti keinginannya. Berbagai bentuk budaya, hiburan, obat-obatan terlarang dan lain sebagainya dibuat dengan sengaja. Untuk itu maka upaya mengatasi dan membentangi manusia adalah dengan mengajarkan mereka agar taat menjalankan agama. Godaan dan tantangan hidup demikian itu, saat ini semakin meningkat, sehingga upaya mengagamakan masyarakan menjadi penting.

C. Berbagai pendekatan Dalam Memahami Agama
Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif di dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekedar disampaikan dalam khutbah, melainkan secara konsepsional menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.
Tuntutan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis normative dilengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pendekatan lain yang secara operasional konseptual dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul. Berbagai pendekatan tersebut meliputi teologis, psikologis, historis, antropologis, sosiologis dan pendekatan filosofis. Adapun yang dimaksud pendekatan disisni adalah cara pandang atau paragdima yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan untuk memahami agama.
Untuk lebih jelasnya beragai pendekatan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Pendekatan teologis
Pendekatan teologis dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud suatu empiric dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lain. Pendekatan teologis dalam memahami keagamaan ini merupakan pendekatan yang menekankanpada bentuk forma atau symbol-simbol keagamaan yang masing-masing bentuk forma keagamaan tersebut mengklaim dirinya agai yang paling benar, dan yang lainnya salah. Aliran teologi ini begitu yakin dan fanatic bahwa pahamnyalah yang benar sedangkan paham lainnya salah, sehinnga memandang paham yang lain itu keliru, sesat, kafir, murtad dan sebagainya. Demikian pula paham yang dtuduh keliru, sesat dan kafir itupun menuduh lawannya seabai yang sesat dan kafir. Maka terjadilah proses saling mengkafirkan, salah menyalahkan dan seterusnya. Dengan demikian antara satu aliran dengan alairan lainnya tidak terbuka dialog atau saling menghargai. Yang ada hanyalah ketutupan yanfg menyebabakan pemisahan dan terkotak-kotak.

b. Pendekatan Antropologis
Pendekatan Antropolgis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama. Antropolgi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Dawam Rahardjo, lebih mengutamakan pangamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif. Dari sini timbul kesimpulan-kesimpulan yang sifatnya induktif dan mengimbangi pendekatan deduktif sebagaiman yang digunakan dalam pendekatan sosiologis.
Dalam penelitian antropologi dapat ditemukan adanya hubungan positif antara keprcayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik. Golongan masyarakat yang kurang mampu dan golongna miskin pada umumnya, lebih tertarik pada gerakan-gerakan keagamaan yang bersifat messianis, yang menjanjikan perubahan tatanan social kemasyarakatan, sedangaka golongan orang kaya lebih cenderung untuk mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah maoan secara ekonomi dan politik lantaran tatanan itu menguntungan pihaknya.
Melalui pendekatan ini kita dapat melihat bahwa agama ternyata berkorelasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan ini, maka jika kita ingin mengubah pandangnan dan sikap etos kerja seseorang, maka dapat dilakukan dengan cara mangubah cara pandang keagamaannya. Selanjutnya melalui pendekatan ini kitadapat melihat agama dalam hubunh=gannya dengan mekanisme pengorganisasian juga tidak kalah menarik untuk diketahui oleh para peneliti social keagamaan.

c. Pendekatan Sosiologis
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat, dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidunya itu. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup ituserta pula kepercayaannya.
Lebih rincinya, sosiologi adalah ilmu yang mennganmbarkan keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala social lainnya yang saling berkaitan. Dengan ilmu ini suatu fenomena social dapat dianalisa dengan factor-faktor yang mendorong terjadinya hubungan, mobilitas serta keyakinan-keyakinan yang mendasari terjadiny proses tersebut.
Selanjutnya sosialogi dapat digunakan sebagai pendekatan dalam memahami agama. Hal demikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi. Dalam agama islam dapat duijupai peristiwa Nabi yusuf yang dahulu budak dulu dan akhirnya baru jadi penguasa mesir. Peristiwa tersebut baru dapat dijawab melalui ilmu sosiologi. Disinilah letak kalau sosiologi ini salah satu alat dalam memahami agama.

d. Pendekatan Filosofis
Filsafat pada intinya berupaya menjeladskan inti, hakikat atau hikmah mengenai sesuatu yang berada dibalik objek performanya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas dan inti yang terletak dibalik yang bersifat lahiriah. Kegiatan berfikir untuk menemukan hakikat itu dilakukan secara mendalam. Louis O. kattsof mengatakan, bahwa kegiatan filsafat itu adalah merenung, tetapi merenung bukanlah melamun, juga bukan berfikir secar kebetulan yang bersift keuntung-untungan, melainkan dilakukan secara mendalam, radikal, sistematik dan Universal.
Berfikir secara filosofis ini dapat dilakukan dalam memahami agama, dengan maksud agar hikmah hakikat dari ajaran agama tersebut dapat dipahami secara seksama. Melalui pendekatan filosofis ini seseorang tidak akan terjebak pada pengamalan agama. Namun demikian pendekatan ini tidak berearti menafikan atau menyepelekan bentuk pengamalan agama yang bersifat formal.
Islam sebagai agama yang banyak menyuruh penganutnya mempergunakan akal pikiran sudah dapat dipastikan sangat memerlukan pendekatan filosofis ini dalam memahami ajaran agamanya, namun denikian pendekatan seperti ini masih belum diterima secara merata terutama oleh kaum tradisionalis formalistis yang cenderung memahami agama terbatas pada melaksanakan aturan-aturan formalistic dari pengamalan agama

e. Pendekatan Historis
Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis kealam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada dalam empiris dan sosialis.
Pendekatan kesejarahan ini sangat diperlukan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkrit bahkan berkaitan dengan kondisi social kemasyarakatan. Dalam hubungan ini Kuntowijoyo telah melakukan studi mendalam terhadap agama yang dalam hal ini islam, menurut pendekatan sejarah. Ketika ia mempelajari al-Qur’an, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa al_Qur’an pada dasarnya itu terbagi menjadi kepada dua bagian. Bagioan pertama berisi konsep-konsep, dan bagian kedua berisi kisah-kisah sejarah yang berisi perumpamaan.
Melalui pendekatan sejarah ini, seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnyaberkenaan dengan penerapan suatu peristiwa, dari sisni maka seseorang tidak akan memahami agam keluar dari konteks historisnya, karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang yang memahaminya. Seseorang yang ingin memahami al-Qur’an misalnya, yang bersangkutan harus mempelajari sejarah turunnya al-Qur’an atau kejadian-kejadian yang mengiringinya turunnya al-Qur’an yang selanjutnya disebut sebagai ilmu Asbab al-Nuzul yang pada intinya berisi tentang sejarah turunnya al-Qur’an. Dengan asbabun nuzul ini seseorang akandapat mengetahuio hikmahyang terkandung dalam suatu ayatyang berkenaan dengan hokum-hukum tertentu. Yang ditujukan untuk memelihara syariat dan kekeliruan memahaminya.

f. Pendekatan psikologi
Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa seseorang melalui gejala perilaku yang diamatinya. Dengan ilmu jiwa ini seseorang selain akan mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, dipahami dan diamalkan seseorang, juga dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan agama kedalam djiwa seseorang sesuai dengan tingkatan usianya. Dengan ilmu ini agama akan menemukan cara yang tepat dan cocok untk menanammkannya.
Kita misalnyadapat mengetahui pengaruh dari sholat, puasda zakat, haji dan ibadah lainnya dengan melalui illmu jiwa, dengan pebgetahuan inimaka dapat disusun langkah-langkah baru yang lebih efisien lagi menanamkan ajaran agamanya. Itulah ilmu jiwa ini banyak digunakan sebagai alat untuk menjelaskan gejala atau sikap keagamaann seseorang.
Dari uraian tersebut diatas kita melihat ternyata agama dapat dipahami melalui berbagai pendekatan. Disini kita melihat bahwa agama bukan hanya monopoli kalangna teolog dan normative belaka, melainkan agama dapat dipahami semua orang sesuai dengan pendekatan dan kesanggupan yang dimilikinya. Dari keadaan demikian seseorang akan melihat kepuasan dari agama, karena seluruh persoalan hidupnya mendapat bimbingan dari agama.
KESIMPULAN

Berdasarkan informasi diatas terlihat dengan jelas bahwa manusia secara fitri merupakan makhluk yang memiliki kemampuan untuk beragama. Hal demikian sejalan dengan petunjuk Nabi dalam satu hadisnya mengatakan bahwa setiap anak yang dilahirkan memiliki fitrah(potensi beragama), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. Karena demikian pentingnyamenumbuhkembangkan dan memenliharapotensi keagamaan yang ada dalam diri manusia mulai sejak dini,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar